Jumat, 18 September 2020

HATI yang MATI

--


sebenarnya pada dasar nya atau pada awal nya hati manusia memiliki kecondongan
dan kecondongan nya adalah pada kebaikan..
bayi yang baru lahir belum bisa bersikap jahat layak nya setan dan pengikutnya
namun sembari tumbuh lah bayi itu akan menjadi pribadi-pribadi lain
berdasarkan lingkungan, asuhan dan paparan-paparan eksternal
yang nanti nya kecondongan pada kebaikan pun terkadang memudar.

pada dasar nya manusia menyukai kebaikan, keindahan, dan kasih sayang
dan radar kepada hal itu pun sungguh kuat pada awal nya
tapi.. terkadang bisa hilang, karena sering di abaikan atau di pupuk dengan suatu kebalikan.

misalnya.
berbohong awal nya sangat menyakitkan bagi pemula, namun..
ketika radar rasa menyakitkan itu di abaikan, nantinya perlahan akan hilang, bahkan bohong menjadi hal yang menyenangkan, bahkan ketingkat yang lebih tinggi nanti nya.

contoh lagi
anak SD terbiasa dengan konfirmasi, misal
nemu uang di jalan, ditanya2 dan di cari2 siapa pemilik nya, bahkan lapor ke bu guru kalo nemu uang, tapi ketika setan mulai datang dan menghasut pelan ke hati anak SD
" ambil aja , kan gak ada yang ngaku, dan cuma 2000 doang" lalu seorang anak SD itu berfikir demikian dan bahkan orang tua pun kadang mendukung, " ambil aja dek, itu rejeki adek "
maka tak lama kemudian , anak SD lugu itu pun berubah menjadi Koruptor profesional, bahkan terkenal...

dan lagi...
bahkan radar kebaikan itu bisa benar-benar hilang dan bahkan di gantikan dengan radar keburukan, 
tak ada lagi kebaikan yang menyenangkan, 
tak ada lagi kejujuran itu benar2 indah
tak ada lagi hati ini condong pada hal-hal yang baik
maka, pada saat itu lah hati dan jiwa ini benar2 di kuasai oleh para penjahat hati..
dan berakhirlah hati ini pada definisi " HATI yang MATI"

Dan kesimpulan nya
ketika jiwa-jiwa kita memberontak dengan suatu kebenaran
sesungguhnya hawa nafsu kita menang atas kita

Kondisi Hati

--


Sepertinya kita butuh kondisi hati yang baik
Dan fikiran yang jernih untuk menghadapinya"

Kata2 ini tiba2 muncul dari mulut seorang teman baikku
Dan aku tiba2 tertegun dan termenung karnanya

Akhir2 ini aku dan diriku yang ambis ini 
Benar2 merasa kelelahan
Mengahadapi perkuliahan yang padat walaupun daring
Menghadapi drama perskripsian dengan target tinggi agar cepat selesai
Bukan hanya itu , aku pun juga menghadapi hiruk pikuk organisasi
Rapat2, konsol2,raker2,upgrading2-an
Dan hal-hal lain yang benar2 menguras tenaga ku 

Dan aku akhirnya sampai pada titik 
Terjebak
Gak tau mau ngapain
Bingung
Kek orang apatis
Dan ngerasa gak maksimal
Padahal aku sudah menggunakan level keambisan ku di level tertinggi

Dan kalimat yang muncul dari mulut seorang teman itu benar2 membuat ku berfikir
" aku ni ngapainn sih?, aku kenapa?, emang aku mau nyari apa?, "

Dan aku menyadari 
Semua targetan2 yang ku buat itu ternyata murni hanya untuk diriku
Murni untuk kepuasan ku 
Lalu..
Apa yang aku berikan untuk tuhan ku ?

Aku menjalankan keambisan itu dengan sedikit demi sedikit
Mentoleransi waktu ibadah ku yg terpangkas
Waktu tilawah ku yang ku percepat dengan bacaan yang mungkin belum tentu benar, serta menurunkan targetan2 harianku
Lalu...
Aku berharap bisa menghadapi semua keambisan2 dunia ini?

Sungguh aku menyadari energi yang ku gunakan untuk mengahadinya ternyata hanya sisa2 
Hanya sebagian2 waktu luang ku yang kuberikan untuk tuhan ku

Dan benar hatiku tidak dalam kondisi baik
Dan fikiran ku pun tidaklah cukup jernih untuk berfikir
Hingga aku pun menyadari sungguh dunia benar2 sudah membuat ku berpaling 

Dan teringat sebuah perkataan orang sholeh
" amanah2 kita tu banyak, 
amanah menuntut ilmu, 
amanah organisasi, 
amanah menjadi seorang da'i, 
dan amanah2 lainnya
Apakah cukup amanah2 itu ditanggung dengan amalan yaumi yang berantakan serta dada yang tak terisi Iman?"

karna perjuangan ku bukanlah hanya untuk diriku

--




malam ini, mungkin bisa dikatakan sepertiga malam terakhir,
ini bukan berkaitan dengan pencarian jodoh, tapi lebih dari itu

aku berterimakasih kepada Allah yang maha menguasai hati, dan Maha mengatur perasaan, sungguh nikmat ini kau berikan padaku, sedang aku hamba yang masih kurang bersyukur
nikmat tangis akan dosa, nikmat penyesalan akan kelalaian, dan nikmat sesak nya hati karna rasa kebersalahan

menangisi dosa2 yang masih ku perbuat dan sangat sulit ku tinggalkan
menangisi dosa2 yang kulakukan, padahal aku dipandang baik oleh orang
sungguh jika dosa ini ditampakkan, maka aku menjadi orang yang paling tidak dibutuhkan

penyesalan demi penyesalan akan kelalaian
kelalaian aku dalam menjalankan amanah
baik amanah dari Allah, amanah menuntut ilmu kepada orang tua, amanah dakwah bagi ummat
dan kelalaian itu ,menjadi penyesalan yang tertancap kuat didada

sungguh sesak nya dada karna rasa kebersalahan yang sangat besar pada sang pencipta..
dengann semua nikmat ini, dan aku masih menjadi hamba pendosa
Astagfirullah


Selasa, 01 September 2020

Hati yang berantakan-1

--

sepenggal
 

Terima kasih telah menyadarkan aku tentang arti aku bagiku
terima kasih membuat aku mundur tanpa berjuang
bukan karna malas berjuang atau tak mampu memperjuangkan
tetapi karna ku mengerti perjuangan tentang aku belum selesai, bahkan belum dimulai

Aku dalam artian memaknai diri yang sangat jauh akan kebaikan
memaknai diri yang berjarak sangat jauh dari syurga, dan sepertinya dekat akan neraka

memaknai hati yang belum tertata rapi, dan masih berantakan
jangankan urusan hati dan dunia, soal Iman saja ingin menangis karna kelalaian dan jauh nya dari rahmat yang Maha Kuasa

tidaklah ada yang menunggu ataupun ditunggu, karna perjumpaan akan indah karna Allah yang merencanakan

Senin, 31 Agustus 2020

:)

--


mengenang kisah : Atomic

berlandaskan Iman



karena do'a ku untuk bisa tetap pada Islam 
dan terliputi keimanan adalah doa setinggi2 nya, 
bermohonkan Rhida Allah 
dan mengharapkan ditempatkan di Syurga 
adalah cita2 mulia yang selalu ku bawa di setiap do'a

sungguh Iman adalah nikmat tertinggi,
sungguhlah iman yang menjadi pembeda

untuk harta, jiwa, dan tahta sungguh tak berarti jika iman tidak didada
berbuat baik, menyantuni fakir miskin, 
mensedekahkan segala harta, 
membantu membangun masjid dan tempat peribaddatan 
serta berlaku adil sesama manusia sangat lah baik, dan Allah akan membalas nya, 

jika amal baik itu berlandaskan Iman, maka dunia dan akhirat ia dapatkan, 
tetapi jika amal itu tak berlandaskan iman, sungguh Akhirat tak ada untuknya, 
soal dunia, Allah akan mudahkan..

tapi.. apalah arti dunia, jika akhirat adalah tempat yang kekal
apalah arti dunia, jika Akhirat yang paling dinantikan..
karna dunia adalah tempat perjuangan, dan fase penikmatan hanyalah ketika kita sampai ke Syurga...

Jumat, 31 Juli 2020

Papa said

Dek , kurban itu bukan hanya bermakna membunuh sapi kambing dan lain2 dari dunia ini, tapi esensi sebenarnya tu adalah membunuh sifat2 keduniawi an manusia,sifat iri,dengki,riya,sombong dan lain2 nya, disitu lah harus di buang jauh2 hingga sampai pada rasa tertinggi yaitu Ikhlas

Memantau besti

mari kita pantai bagaimana kehidupan bestii yang satu ini ... dengan segala tulisannya yang menyegarkan dengan tulisannya yang selelau memot...