Bukannya kita udah sepakat kalo12 km itu dekat ?
yang menjadikan ia jauh bukan lah jarak tempuh, namun hati kita yang mulai tak teguh, mulai rapuh, hingga jarak itu terperhitungkan..
jarak itu menjadi tampak
jarak itu menjadi pemberat dan alasan untuk beralasan
maka bukan lah jarak yang menjadi perhitungan
namun kondisi hati yang tak terkondisikan
bukan lah 12 km itu yang menjadi perhitungan
namun girah untuk menjangkaunya yang sudah mulai buram
jika dulu jarak mekkah madinah itu diperhitungan, maka kata hijrah sungguh tak akan kita kenal
jika jarak lah yang menajdi persoalan pastilah pada saat rasulullah memerintahkan musab bin umair memulai dakwah ke madinah, beliau akan menolak nya, namun pada saat itu, Musab bin umair tidak melihat mekkah madinah itu sebagai jarak, namun pada saat itu Musab melihat itu sebagai jihad, hingga akhirnya jarak mekkah madinah itu tak menjadi jarak baginya..
jangan kan mengayunkan kaki, jika harus merangkak pasti akan ia lakukan
jika persia, roma, konstantinopel, dan andalusia itu adalah jarak..
maka sungguh islam terhenti di madinah saja
islam tak akan meluas
tak akan sampai pada kita
namun pada saat itu, ummat islam tidak memandang semua itu sebagai jarak..
laut ?
darat ?
pegunungan ?
atau bahkan jurang ?
itu menjadi jalan jihad yang sangat indah bagi para mujahid..
jika pada saat penyerangan Muhammad Al-fatih ke konstantinopel itu berhenti karena blokade dari teluk tanduk emas dan selat bosphorus serta penyerangan kapal-kapal besar di laut marmara. Maka Pegunungan Galata akan terlihat sangat tidak mungkin,
Namun
Muhammad Al-Fatih dan para pasukannya tidak melihat semua itu sebagai jarak, jangan kan melintasi pegunungan galata, mereka membawa kapal itu mendaki perbukitan, mereka menarik kapal, mereka mendorong dari belakang, tahukan kita bagaimana lintasan perbukitan ??
maka pada saat itu kapal bukan saja berada di laut dan perairan, tapi mereka seakan berlayar di perbukitan...
itulah arti jarak bagi mereka
mereka melihat jarak itu sebagai perjuangan..
Para mujahid itu melihat itu sebagai peluang
peluang dalam berlomba dalam berjihad..
sungguh jarak bukan lah persoalan
jika hari ini dakwah kita terhenti karena jarak
sungguh sangat jauh jiwa mujahid itu dari kita
jika hujan menjadi alasan dibatalkan nya agenda dakwah
maka sungguh badai selanjutnya tidak akan bisa lagi kita hadapi
bagaimana bisa kita mengharapkan kader militan selanjut nya ? jika kita masih lemah akan hal ini..
maka, mungkin kita perlu berbenah dan bersepakat lagi tentang arti jarak..
dan hari ini...
kita menemukan alasan..
bukan jarak lah menjadi persoalan
tapi..
girah kita pada dakwah yang sudah tidak sebegitunya
ruhul istijabah kita sudah mulai bermasalah, sudah mulai kita longgarkan..
jiwa para mujahid itu perlahan memudar dari diri kita
jiwa para mujahid itu sudah tak tampak indah lagi dimata dan hati kita
cerita perjuangan shuhadah itu sudah tidak menjadi pembakar semangat
darah para sahabat dan sahabiyah yang tertumpah di di tanah juang itu sudah tidak menjadi gemertak dihati kita, sudah tidak menjadi pelecut semangat lagi..
hati kita perlahan tidak bergetar saat diteriakkan takbir
suara takbir itu perlahan terdengar sayu di telinga kita
tangan kita tak sontak terangkat ketika kata "TAKBIR" disorakkan
sungguh apakah ini mujahid dakwah ?